TAHUN BARU: ANTARA RITUAL DAN REALITAS
Arfin Rose
Semua masih gelap di depan, tapi jangan mau membiarkan diri digilas sejarah. Mari justru mulai membuat sejarah...
Sindhunata
Mencoba menangkap kembali makna yang tersirat dalam perayaan tahun baru kemarin, sepertinya kita dipaksa untuk kembali mengingat dan mengulang serentetan ritual-ritual semu. Bagaimana tidak? Perayaan tahun baru di negeri kita selalu tentang terompet,kembang api, pesta, wanita,dan minuman. Memang setiap negara memiliki tradisi khusus dalam merayakan tahun baru di tempatnya, meski tak menampik kemungkinan bahwa di negara-negara lain acapkali membuat lelucon yang tak kalah menggelikannya. Fenomena yang terjadi sebenarnya sah-sah saja sebagai spirit ekspresi pembebasan dan ritual pergantian tahun, selagi semua anekdot itu dilakukan dalam takaran yang sewajarnya, tanpa justru mengurangi dan mengotori hakikat perayaan tahun baru itu sendiri. Mengingat dalam hal ini, tiap-tiap negara harus memiliki kontekstualitas yang jelas dan sesuai dengan kultur dan realitas yang sedang terjadi di negaranya.
Realitas indonesia pada penghujung 2007 kemarin adalah realitas air mata. Hal ini tak dapat dipungkiri lagi mengingat negeri ini sedang dilanda bencana banjir untuk kesekian kalinya, malahan bencana ini melebar hingga pada daerah-daerah yang semestinya bukan rawan banjir. Beberapa sungai besar yang ada di negeri ini meluap dan sepertinya beberapa bukit dan pegunungan juga sudah semakin gundul dan tak kuasa membendung aliran air yang ada yang pada akhirnya tragedi ini melumpuhkan beberapa titik di belahan bumi katulistiwa yang ijo royo-royo ini.
Kembali pada tahun baru, sepertinya pada perayaan tahun baru yang berlangsung kemarin masih sangat sulit kita jumpai beragam ungkapan dan ekspresi pelepasan tahun yang berlangsung mencerminkan sikap keprihatinan dan simpati sosial atas bencana yang sedang melanda bangsa ini. Perayaan pesta tahun baru di Ibukota misalnya, perayaan yang berlangsung di beberapa tempat seperti Ancol dan Monas sudah menghabiskan dana milliaran rupiah, dana ini tentu saja tak sebanding dengan subsidi yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk para korban banjir disana. Itu masih gambaran kasus yang terjadi di Jakarta, belum lagi di wilayah-wilayah lokal lainnya. Sepertinya negeri ini rela merogoh kocek milliaran rupiah untuk satu malam saja tanpa perlu ada lagi dialekektika tawar menawar dengan konstruk sosial yang terlanjur dianggap mapan ini.
Melihat fenomena yang terjadi, sepertinya masyarakat kita masih terjebak pada basa-basi seremoni dan ritual yang ada tanpa menghiraukan lagi nilai dan pesan moral yang akan tersampaikan, seperti mendengarkan sebuah musik: seringkali yang bermain dalam benak kita pada saat itu hanya satu dominasi saja, kita begitu dimabukkan oleh alunan irama musik saja tanpa perduli lagi dengan lirik yang ada, begitu juga sebaliknya. Karena pemahanan bawah sadar kita ternyata tidak pernah terlatih untuk memahami sebuah entitas secara keseluruhan.
Akhirnya tulisan ini tidak mencoba untuk meneriakkan suatu perubahan yang muluk-muluk, mungkin tulisan ini hanya luapan kebingungan setelah lelah berkeliling Jogja dan ternyata tak mampu merasakan entah apa yang dirasakan orang ramai pada saat itu yang tak lelah-lelahnya memadati setiap ruas jalan. Dan akhirnya tahun baru kemarin, penulis menghabiskan malam menyaksikan pagelaran wayang dengan sang pacar hingga larut pagi, semoga tak sia-sia……
Jogjakarta, 09 Januari 2008
Minggu, 27 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar