Minggu, 27 Januari 2008

ken arok VS empu gandring

Ken Arok Vs Empu Gandring
Oleh: Arfin Rose*

Dahulu kala, jika seorang Ken Arok melakukan kudeta kepada gurunya yakni Empu Gandring dengan dalih bahwa kesaktian keris yang diwariskan sang guru untuk si murid akan mampu menyerap segala kesaktian orang yang terhunus sebilah keris yang dibuatnya. Justru tanpa direkomendasikan terlebih dahulu, orang pertama yang dicantumkan si murid dalam daftar orang yang akan dibunuh tak lain adalah sang gurunya sendiri. Walhasil, akhirnya sang guru mati terbunuh oleh hasil karya-ciptanya sendiri.
Berpuluh-puluh abad telah berlalu dari kisah yang mengawali pembicaraan ini dan mungkin falsafah hidup, ideologi politik dan arus kebudayaan telah bergeser ribuan kali seiring berubah dan semakin bergelombangnya riak-riak zaman yang kian tak menentu hingga hari ini. Nilai-nilai yang ada telah direvisi, dipadukan, bahkan tak sedikit yang dibuang begitu saja bak meludah di derasnya aliran sungai Brantas. Dalam kebudayaan sendiri telah dikemas sedemikian beragamnya, nilai-nilai yang tertanam telah menjadi semacam kesepakatan bagi sebuah daerah baik dalam wilayah, lokal, regional, maupun internasional. Setiap daerah sekecil pedukuhan sekalipun mampu membuat dan menerapkan nilai-nilai kebudayaan yang ada dengan cara menciptakan sebuah karya cipta yang dianggap mampu mengidentifikasi lokalitas daerah tersebut, entah itu dalam wujud musik, tarian, kesusastraan, senjata adat, pakaian atau rumah adat, hingga makanan khas sekalipun setiap daerah mampu mengapresiasikan berdasarkan lokalitas kebudayaan yang melingkupi.
Adalah Malaysia (baca: Ken Arok) yang beberapa tahun silam putra daerahnya dikirim ke Indonesia (baca: Empu Gandring) untuk belajar berbagai nilai-nilai kehidupan Melayu dari berbagai aspeknya, dengan tujuan tentunya untuk mendalami dan mengukuhkan falsafah kehidupan bangsa Melayu sebagai tata nilai yang akan dijadikan Garis Besar Haluan Negara-nya si Ken Arok kelak. Sebagai sebuah negara yang awalnya bernaung pada satu ibu kebudayaan yang sama, yakni rumpun Melayu. Sebagaimana hikayat Ken Arok yang berambisi untuk mempersunting Ken Dedes guna meraih tingkatan satria mengharuskan dia untuk menghalalkan segala cara, dengan melakukan berbagai macam kudeta baik di bidang politik, kekuasaan sampai pada wilayah kebudayaan tak ia lewatkan begitu saja. Hingga akhirnya belakangan ini sering kita dengar konflik antara 'guru-murid' tak hanya di dalam kelas saja, namun sudah memasuki lintas negara, baik itu permasalahan lagu rasa sayange, kesenian Reog, dan masih banyak hal lagi yang mendadak menghangat dalam perbincangan orang-orang dari kalangan guru-murid itu sendiri. Berdasarkan fakta yang berkembang di masyarakat, bahwa ada semacam upaya pengakuan hak atas kebudayaan yang ada di Indonesia dan permasalahan ini ternyata tidak berawal dari masalah pengakuan rasa sayange dan reog semata, melainkan sudah terjadi sejak beberapa tahun belakang ini.
Mencermati permasalahan seperti ini tentunya bukanlah suatu hal yang mudah apalagi jika argumen kebudayaan dari kedua negara dijadikan sebagai pembenaran kepentingan masing-masing, salah-salah kita hanya akan terjebak pada klise ayam dan telur saja. Mungkin dari kedua negara perlu instropeksi kembali mengenai nilai-nilai kebudayaan yang dalam

Yogyakarta, 12 Desember 2007

Tidak ada komentar: