Pengarang itu bukan wartawan, tetapi guru. Tugasnya bukan melukiskan dunia seperti apa adanya, tetapi melukiskan dunia seperti seharusnya ada.
(Mencken)
Sastra bukan potret kehidupan. Pengarang harus menyeleksi potret-potret kehidupan itu lantas menyusunnya dalam suatu kesatuan yang organis untuk menyatakan sesuatu arti. Dengan susunan data yang baru tadi terjadi sesuatu yang baru. Dan sesuatu yang baru tadi harus menyarankan sesuatu arti. Dalam cerpen pengarang dituntut suatu sikap hati-hati dan penuh keterampilan dalam menyeleksi detail-detail kehidupan dan menyusunnya dalam arti tertentu.
(N.N)
Teori sastra tidak perlu? Bacalah teknik menulis dan setelah selesai lantas lupakanlah. Pelajarilah prinsip-prinsip konstruksi sebuah cerpen yang baik, nilai kesinambungan sebuah karya, point of view yang konsisten, perhatikan detail-detail peristiwa, tulislah dialog-dialog secara cermat. Lantas semua itu benamkan dalam bawah sadarmu, dan biarkanlah hal-hal itu mengontrol dirimu waktu menulis.
Kerja menulis adalah kerja yang paling keras di dunia. Menulis benar-benar menghantui jiwa. Setelah kita bekerja satu atau dua jam sehari, sebagian dari kemanusiaan jiwa kita seperti musnah. Tidak ada pengalaman kehidupan dan pengetahuan kesustraan yang sia-sia bagi seorang penulis.
(Ellen Glasgow)
Dalam cerpen karakter tak perlu berkembang seperti di dalam novel. Bahkan boleh ada karakter yang tidak pernah berbicara sepatah pun sepanjang cerita. Tidak perlu ada identifikasi. Pembaca telah cukup memahami tentang seorang tokoh wanita dalam cerpen dengan hanya mengetahui bentuk tangannya.
(H.E. Bates)
Sastra adalah evaluasi pengalaman seseorang. Tidak ada seorang sastrawan pun yang ingin membuktikan sesuatu.
(Oscar Wilde)
Tiap penulis memang harus menyadari sikapnya dalam karya-karyanya, namun harus dibedakan antara pemecahan persoalan dan penempatan yang tepat sebuah persoalan. Dalam karya sebesar Anna Karenina tak ada satu persoalan pun yang dipecahkan. Tetapi toh memuaskan lantaran semua persoalan disajikan pada tempatnya secara tepat. Adalah tugas hakim untuk bertanya secara tepat, dan tiap orang harus memutuskan menurut selera pribadinya.
(Anton Chekov)
Orang menulis tanpa tujuan-tujuan moral. Sastrawan tak boleh memvonis siapa yang jahat dan siapa yang baik. Tugas penulis memang membuat dunia ini supaya lebih baik, tetapi keadilan dan kebenaran tergantung waktu dan tempat.
(Samuel Jackson)
Bacalah sastra, bagi mereka yang suka. Dan yang tidak suka tidak usah membaca. Tak mungkin orang menjejalkan makanan pada mulut bayi. Sastra yang saya tulis tak ada maksud moral atau immoral. Tetapi melihat efeknya jelas cenderung pada moral. Moral dan immoral tak bisa hidup dalam satu atap. Atau yang satu atau yang lain.
(Swinburne)
Sastra membangkitkan perasaan haru, perasaan patriotis, perasaan takut pada diri kita. Apakah salah jika ia juga membangkitkan seksualitas kita? Tetapi harus diingat bahwa sastra mempunyai banyak tujuan, sedang pornografi hanya satu tujuan saja: membangkitkan birahi.
(Stephen Marcus)
Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.
(Edgar Allan Poe)
Masalah cerpen adalah masalah pemilihan--seleksi fakta dan kejadian.
(E.Bowen)
Cerpen seperti balapan kuda: start dan finish yang menentukan.
(Ellery Sedgewick)
Sebuah cerpen tak perlu ada pembuka dan penutup—gambarkan senjata tergantung di dinding, suatu ketika senjata itu akan diambil.
(Anton Chekov)
Tulis apa saja tentang dirimu dan dunia sekelilingmu
( SM Ardan )
1 komentar:
untuk kawan granj suwandi,
posting baru aja log in :
email : menujukebarat@gmail.com
password : ciloweta
hurufnya kecil semua lho...
Posting Komentar